SerbaSerbi - Membuka Luka
"Hiduplah hari ini, jangan fokus pada masa yang sudah kamu lewati, atau mencemaskan masa depan yang belum kamu temui"
Kalimat itu selalu menamparku ketika overthinking, ketika stress, ketika semua hal menjadi tidak baik-baik saja. Mengingatkan aku pada kisah nyata yang menjadi pembelajaran bagi hidupku ke depan.
Bapak.
seorang laki-laki pertama yang mencintai putrinya, bersiap melindungi dan mempertaruhkan hidupnya demi putrinya. Kau tahu peran Bapak begitu besar bagi perkembangan putrinya. Karena menurutku Sosok Bapak adalah laki-laki pertama yang dikenal putrinya, maka jadilah sosok Bapak yang bisa membuat putrinya mencintai, menyayangi, dan memiliki pandangan yang baik terhadap laki-laki selain dirinya. Sang putri tidak bisa memilih punya sosok Bapak bagaimana, jadi ya seburuk-buruknya sosok Bapaknya ia tidak bisa menghilangkan ikatan kuat diantara keduanya, Ikatan itu tak akan bisa hilang darinya, selalu melekat sampai mati.
sudah 20 tahun aku mengabaikan siatuasi ini, dan ku sadari bahwa rasa ini perlu ku terima, perlu aku jinakan agar tidak menggila, rasa kecewa, takut, bahkan benci harus segera ku musnahkan. Karena sejauh apapun aku berjalan, kalau perasaan buruk itu masih melekat denganku, perjalananku akan buruk.
hidup dalam ketakutan, kecemasan, kesedihan, kesepian memang tidaklah menyenangkan, dan hampir semua orang merasakannya. tentu dalam takaran dan jumlah yang berbeda. tapi, tidakkah kamu menyadari, tidakkah kamu ingin melihat semua itu dari sudut pandang lain, melihat hal yang sebenarnya tersembunyi dibalik itu semua. bertahun-tahun Bapakku mengalami hal itu, keluarga kami dibayangi hal itu. Rasa bersalah, rasa penyesalan, kesedihan, ketakutan, terus menggerogoti dan merasuki Bapak selama bertahun-tahun. tanpa ia sadari, dibalik itu semua ada hal yang sebenarnya ia lewatkan, kebahagiaan bersama anak-anaknya ketika tumbuh, waktu yang begitu banyak ia lewatkan yang sebenarnya bisa ia gunakan bersama anak-anaknya, tapi ia lewatkan dengan meratapi hidupnya, menyalahkan masa lalunya, menyalahkan dirinya. Tanpa beliau sadari anak perempuannya sudah beranjak dewasa, tanpa ia sadari ia melewatkan masa berharga dengannya... tanpa menanyakan bagaimana sekolahnya, bagaimana tugas yang sering mengganggunya, apakah ada laki-laki yang menggodanya, bagaimana kehidupan pertemanannya, bagaimana ia bersosialisasi dengan teman-temannya, apakah cita-citanya, siapakah yang paling ia cintai, siapakah yang paling ia ingin bahagiakan. Sosok ayah yang jujur aku inginkan, sosok yang seharusnya membuka pandanganku terhadap laki-laki. Kemarahan itu sekarang masih berbekas dalam diriku, trauma akan sosok laki-laki yang seharusnya mengayomi, menyayangi baik keluarga maupun wanitanya. ya... aku masih punya luka lama.
Komentar
Posting Komentar