SerbaSerbi - Coretan Senja


BAGIAN 1
“Reihan”
“ya, Re?”
“apa kabar?”
“baik, Re. Lu gimana?”

Berawal dari pesan singkat itu, aku mulai menanyakan keadaannya. Saat itu kami sudah memasuki masa-masa akhir studi, ya... taulah gimana galau, gabutnya pas jadi mahasiswa tingkat akhir. Mau cari kerja, masih terikat, mau fokus juga  ide tak kunjung datang. Ya, salah satunya cara menghilangkan rasa penat dengan cara iseng-iseng bertukar kabar teman.

Reihan, sahabat sekaligus ku anggap musuh bebuyutan, kami memang tak kenal dekat saat di awal-awal di BEM Universitas. Humm,,, coba ku ceritakan sedikit asal muasal kami satu organisasi. Jadi, di Kampus ku, ada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), BEM, dan lainnya.  nah aku lolos seleksi BEM Universitas,  kebetulan Reihan juga satu angkatan denganku tapi beda jurusan. Tahun pertama masa organisasi kami nggak deket, perawakannya yang terlihat keren, cool, suka bergaul, dan ramah membuatnya disukai dan didekati teman-teman baik yang seangkatan ataupun kaka kelas. Ya dari situ saja, aku males deket sama laki-laki yang jauhlah dari kemampuanku. Jadinya, cukup tau sekedarnya, ngobrol juga nggak pernah kayaknya. Cuma oh..iya..ohh iya...sampai pada akhirnya aku ditugaskan menjadi satu bagian sama Reihan di tahun ketiga. Kami harus bersama-sama menjalankan roda kepengurusan, saat itu kami jadi sekretaris umum, Reihan sekretaris I dan aku sekretaris II. Nah, disinilah aku mengenal dia lebih jauh, lebih mengenal kebiasaan baik/buruknya, ramahnya, ngeselinnya, dan usilnya. Tahun ketiga begitu banyak drama diantara kami, oiya..karena saat itu Reihan udah punya pacar, jadi kedekatan kami tidak membuat aku suka dengannya. Ya dari tahun pertama saja sudah tak tertarik, apalagi ketika dia sudah punya pacar, cukuplah membuatku merasa untuk “biasa” saja. Berat juga sih pada saat itu, seperti semua tugas dibebankan kepadaku, nah itulah yang membuatku sering kesal. Tak jarang kami sering berdebat, apapun kami debatkan dari hal yang paling sepele sampai yang paling rumit sekalipun. Tapi sekali lagi itu semua tak menjadikanku menaruh perasaan untuknya.
-----
Cukup kali yah perkenalan tentang dia, oke kita back to topic,
-----
Semenjak aku bertukar kabar, kami jadi sering bercerita satu sama lain, haa.. rasanya ada hal yang aku tunggu setiap harinya. Reihan ini tipikal orang yang cuek banget, jadi jarang banget dia bales, cuek banget hanya sekedarnya. Saat itu, kondisi dia baru beberapa bulan putus dengan pacarnya, alhasil aku bebas untuk mengirimkan pesan kepadanya dan terlihat dia merasa kesepian. Hehehe . Hal yang membuatku penasaran adalah tiap kali aku kasih semangat, aku kasih support jawabannya selalu nyeleweng, emang salah satu sifat dia yang mageran dan bodo amat membuat ku penasaran. Ya karena saat itu aku nggak merasakan apa-apa, jadi membuatku biasa aja, dan memang maksudku untuk menjalin komunikasi yang sempat terputus sejak lama.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

BAGIAN 2

Kring..kringg...
Suara handphone berbunyi, menandakan pesan whatsapp masuk. ku baca dan ternyata dari Reihan.

“Re, Minggu ini kamu kosong nggak?”
“umm, iyah kosong, kenapa gitu Rei?”
“ini, anter yuk ke Pameran Budaya, ada beberapa hal yang aku ingin liat”
“wah,, kapan itu? Boleh...boleh...boleh”
“oke..ntar dikabari”

Singkat, sepertinya.. sudah beberapa hari dia tak membalas pesanku, dan tiba-tiba dia mengajakku ke festival budaya akhir minggu ini. Pikirku, sekalian refreshing boleh juga lah. Tibalah hari minggu, sejak pagi ku menunggu di kostan, umm..menunggu lagi dan menunggu lagi. Ku putuskan untuk menanyakannya.

“Rei, ini jadi nggak? Mumpung masih pagi nih, ntar keburu siang mager gue nih”
“hooiyayah..duh jadi nggak yah re? Gue baru bangun masalahnya nih”
Rasa kesal. Karena sejak kemarin ku digantungin gitu aja... “tau gitu aku pulang aja” pikirku.
“jadiinlah, kalau nggak jadi mending gue pulang dari kemarin Rei, kuy kuyy”
“serius jadi? Yaudah deh tunggu gue mao siap-siap”

--------------- 3 jam kemudian ----------------------

Datanglah dia ke kostanku, setelah lamanya menunggu akhirnya dia datang juga dengan gaya watadosnya.
“kenapa lama banget si?”, omelku
“maap maap, tadi ada kendala di rumah..hiii”, katanya
Tanpa perdebatan panjang lagi, kami berangkat ke festival budaya. Selama perjalananpun kita tak banyak berbicara, cukup merasakan suasana hiruk pikuk kota Jakarta. Saat itu, suasanya cerah, ramai dengan kendaraan lalu lalang sedang menikmati akhir minggu. Tak lama sih, perjalanan kami. Sampailah kami disebuah gedung, saat itu ramai sekali pengunjung dari berbagai tempat, ingin melihat festival ini.
“re, ayo masuk..” ajaknya
Aku mengikutinya dari belakang, kami pun masuk.
----------------------------------------------------------------------

“re, makasih ya udah nemenin gue ke festival itu..asli seru banget”
“yo sama-sama, hati-hati lu pulangnya. Langsung pulang lu! Jangan mampir ke mana-mana”
Akhirnya, kami pulang. Hari itu aku bersyukur bisa bermanfaat baginya dan melepas penat sejenak dari tugas akhir yang menumpuk. Cukup sampai disitu cerita kami. Tak lebih tak kurang, tapi ternyata ada sesuatu hal mulai diam-diam menyelinap masuk. Ya, perasaan itu adalah perasaan “rindu” ohh my God. Sangkalku.
-----------------------------------------------------------------------
BAGIAN 3

Semenjak hari itu, kami tak berbalas pesan lagi. Hm.. jujur aku menunggunya menyapa, tapi apa daya. Handphone ku sedari dua minggu yang lalu tak pernah menunjukkan pesan darinya. Baiklah, hari-hari ku jalani dengan setengah hati, hati masih berharap, tapi kepala selalu menyangkal tiap rasa itu datang. Terlebih gejolak dalam raga dan jiwaku terus berseteru, saling ego mana yang harus didahulukan. “ahhh..cukuplah, aku lelah”, lagi-lagi aku menaruh harapan semu, lagi-lagi aku terjatuh dengan imajinasiku, padahal sudah tahu semua itu akan menyakitiku nantinya. Semenjak hari itu, memang kami sudah tak berkirim pesan, pertemuan itu seolah menandakan pertemuan terakhir kami, sedikit rasa sesal karena tak memberikan hal yang berkesan saat itu, tapi mau gimana. Aku berusaha penuh untuk mencari kesibukkan dengan berbagai cara, ingin mengenyampingkannya tapi jujur hati ini terus berteriak, mencari dukungan tak peduli apapun. Rindu
Rindu, cukuplah sampai disini, cukuplah membuatku tak bisa berpikir jernih, cukuplah sudah, jangan membuatku merana akan hal itu, terlebih dia sahabatku, terlebih pikiran negatif yang menghampiriku, terlebih rasa takut akan kehilangan sebelum berhasil ku genggam, terlebih,,,ahh semuanya begitu berlebihan, hal yang sederhana saja menjadi begitu pelik, hal yang sepele saja menjadi begitu rumit. Hanya satu kata, namun begitu sulit untuk diungkapkan, bahkan diakui saja aku tak mau. Bagaimana tidak, sedari dulu tak pernah muncul perasaan itu, tak pernah aku membayangkan bagaimana jadinya jika rindu itu terus menggerogotiku, ahhh...kenapa bisa sehancur ini. Pikirku.
-----------------------------------------------------------------------
“Re, “, pesan darinya.
Hari itu, aku baru pulang dari sekolah, maklum hari itu memang jadwal mengajar eksul, jadwal yang padat membuat badan ini terasa begitu lelah. Alhamdulillah, aku masih punya sisa-sisa tenaga untuk kemballi pulang ke kostan. Tiba-tiba satu pesan yang ku tunggu selama ini datang. Pesan darinya!
“yaaaaa.....”, balasku
“lagi dimana?”, tanyanya
“gue di kostan nih...baru pulang banget dari ngajar, ada apa rei?”
“ahh..enggak kenapa-napa, Cuma pengen nanya aja, hehehe”, balasnya.
Tiba-tiba pikiran usil itu datang, entah kenapa saat itu walau badan lelah setengah mati tapi aku tak menghiraukannya, mencoba mengajaknya berjalan-jalan santai di malam hari sepertinya seru. Ideku.
“eh, lagi di mana lu?”, tanyaku lagi
“ini, nih lagi di kostan Rizal, lagi ada urusan mampir deh”
“hmm.. kosong nggak abis itu?, mau nyoba naik MRT nggak? Gue penasaran banget tapi nggak ada yang bisa gue ajak.” ajakku
--- 5 menit kemudian ---
“serius mau naik MRT sore gini? Ayo ajak gua mah”, balasnya
“oke, jemput gue di kostan 15 menit lagi yak, gue bebersih dulu.”
“oke”, balasnya lagi.
Setelah itu apa yang bisa kau bayangkan, aku yang tadinya lelah, sangat lelah..langsung bergegas bersiap-siap, pergi ke kamar mandi, sholat ashar, memakai baju sebagus mungkin, dan ketika di tanya temen kostan mau kemana, jawabku asal sambil meninggalkan mereka yang tampaknya sedang keheranan melihat tingkah konyol ku itu. hahahahahah

Kamu tau – saat itu aku sendiri yang memutuskan untuk jatuh, ya aku sendiri yang memutuskan untuk mencintainya, aku sendiri yang memutuskan untuk menyayanginya melebihi sahabat, dan aku sendiri yang memutuskan untuk masuk dalam lingkaran itu.
-------------------------------------------------------------------

Akhirnya sampai di stasiun MRT Lebak bulus, lucu sekali liat tingkahnya, karena memang saat itu dadakan, jadi dia terpaksa membawa tas berisi laptop. Tampak berat sepertinya. Kami turun dari parkiran, dan segera bergegas menuju stasiun. Padahal jarak dari parkiran ke stasiun begitu jauh, tapi tak terasa begitu saja, terlewati sambil berbincang dan bercanda banyak hal.
“Re, kita mau ke mana nih?”, tanyanya
“hah. Stasiun terakhir yuk... “, balasku
“nih, stasiun HI? Gimana?”, tanya lagi
“bawel ih, kuy”, omelku.

Naiklah kami dari stasiun pertama yaitu stasiun lebak bulus, sepanjang perjalan kami diam dan duduk bersebelahan, karena saat itu, pelayanan MRT masih baru, jadi intensitas penumpang belum banyak seperti sekarang, terlihat dari awal kami naik, penumpang bisa dihitung jari dalam satu gerbong, cukup lengang. Percobaan kami naik MRT berhasil, sambil menghitung lama perjalanan, ku lihat Reihan yang sedari tadi melihat-lihat Hp nya entah karena apa, aku tak peduli, hari itu memang begitu lelah, jadi melihat pemandangan gedung tinggi dari jendela kereta adalah hiburan bagiku. Tidak terasa 30 menit berlalu, sampailah kami di Bundaran HI, kami keluar stasiun, mencari Mushola untuk sholat magrib. Selepas sholat kami berjalan-jalan di sekitar HI, bingung mau ngapain dan ngobrol apa. canggung. Lagi-lagi ku sangkal pikiran itu dengan bersikap biasa.

“Re, bukannya kamu belum makan ya?”, tanyanya
“iyah nih, tapi dari tadi gue nggak nemu makanan,”, gerutuku
“yok, cari makanan..humm..mau makan apa?”, tanya lagi
“apa aja dah yang bisa di makan, laper banget sumpah dari pagi belom makan.”, kataku sambil cemberut
“ayokk..ayokkkk...dia menarikku”

Lumayan jauh kami mencari tempat makan, maklum baru pertama kali aku ngebolang ke HI, ditambah sahabatku ini orangnya sedikit lola, hihihi. Jadi kami harus kemana kemari untuk mencari tempat makan, dan ketemulah gang kecil, mau nggak mau kita makan disitu, karena perutku sudah tak tahan menahan rasa lapar. 
Sederhana, sangat sederhana... di sudut gang, kami menyantap makanan begitu lahapnnya, aku sampai tak kuasa satu piring nasi goreng ku habiskan dalam waktu yang begitu cepat. Sampai-sampai Reihan tertawa melihatku yang kekenyangan nggak bisa jalan. Tidak terasa tiga jam berlalu, dan waktunya kami pulang. Pulang. Ke tempat masing-masing.

Pulang tanpa membawa rasa sedikit pun, pulang tanpa membawa rasa rindu ingin bertemu, seharusnya itu, tapi lagi-lagi aku berbelok. Lagi-lagi aku membiarkan rasa itu terbawa, menjadi oleh-oleh perjalananku. Hingga sampai saat ini.

BAGIAN 4
“Rei,”
Tak ada balasan. Hilang dia pergi, dia tak kembali, lagi-lagi benar saja dugaanku, setelah beberapa bulan ini kami lalui bersama, baru ingin membuka buku untuk ditulis bersama, dia pergi. Entah kemana, sedikitpun dia tak membaca pesanku, apalagi membalasnya. Intinya, dia pergi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesantaksampai

SerbaSerbiNyambi

SerbaSerbiSambi_DAYS 03_ a Memory