SerbaSerbi - Galau
Galau Mele
dan kini, entahlah... Hanya Tuhan yang tahu yang terbaik untukku dan dia.
Bukankah tanda kedewasaan salah satunya tidak memaksakan suatu hal, termasuk mencintai seseorang?
"udah lupain aja, lagi juga dari awal emang nggak pernah mungkin dia suka sama lo"
"eh...emang pernah ada apa sih lo sama dia?"
"eiya ya... gue mimpi apa emangnya selama ini ko indah banget"
"bukan dianya yang salah, kamunya yang ke-geeran. padahal dia mah biasa aja.. kamunya yang serius..wkwk"
Tuhan selalu memberikan kita sesuai porsinya.
Mungkin ada ucapanku yang memang sesuai terjadi, toh ketika dari awal aku sudah berpikir tidak mungkin, cepat atau lambat akan terjadi. Tinggal menunggu waktu saja kapan terjadi. Kata siap di awal seakan-akan hanya sebuah bualan yang tak bisa ku pegang. Entah aku mencintaimu atau hanya permainan hati.
.
ya... dari awal memang tidak pernah ada niatan, aku menyukainya sama sekali tidak ada.
bahkan, dia adalah laki-laki yang tidak aku lirik sama sekali, bukan karena fisik, sikap atau apa. Jadi aku tidak akan tertarik dengan laki-laki yang disukai banyak wanita, dan dia salah satunya.
Sedari awal aku dan dia tidak dekat, sama sekali. Sampai takdir memberikan aku dan dia satu tim pun aku tak pernah melihatnya sebagai seorang laki-laki. Disamping prinsip ku di awal, ditambah dia pun sudah punya pacar. ya .. aku berpikir menaruh rasa tak akan menjadi manfaat, bahkan walaupun aku sering berkeluh kesah, menghabiskan waktu satu tahun di ruang kecil bernama "kantor" pun tak membuatku tertarik kepadanya. salah satu prinsipku tidak akan pernah menyukai laki-laki yang sudah punya pacar atau istri.
Sampai pada akhirnya Semesta mempermainkan aku dan dia, kebetulan aku dan dia sama-sama tak bersama siapapun. Selang satu tahun tak ada kabar karena aku dan dia sudah tidak satu tim lagi, tiba-tiba entah kenapa Semesta mempertemukan aku dan dia kembali. tidak, bukan semesta, tapi aku yang memulai, aku yang iseng coba-coba, aku yang iseng mengirimkan sebuah pesan pertemanan, hahahah...
entahlah, Saat itu, tanpa sengaja sedang menikmati waktu luang, sebuah pesan tak sengaja terkirim kepadanya. dan "wushhhhh" secepat kilat bak menembus dengan kecepatan cahaya. Membuat semuanya berubah, berubah... sampai pada rasa yang tidak seharusnya aku akui. Sampai ketika dia mengucapkan apa yang dirasakan terhadapku. Seketika, aku tak percaya, seketika aku ragu, seketika aku tahu kalau dia "hanya" penasaran, hanya bermain-main yang nanti akan ada waktu dia berpindah "bosan" meninggalkan. Sudah ku sadari memang dari awal, kalau ini tidak baik diteruskan. Lalu kenapa dicoba? hahahah ya begitulah diriku, ingin selalu mencoba bahkan hal konyol seperti itu. Semenjak aku menaruh rasa, aku siap untuk jatuh, aku siap untuk kehilangannya, aku siap untuk menikmati pahit dan manisnya suatu perasaan, dan aku akan bertanggung jawab pada perasaanku, Akulah yang memulai dan akulah yang harus mengakhiri. benar saja... dia menghilang, ehm,,menjauh, dan aku bertanya baik-baik, tapi lagi-lagi tak ada respon... jadi kuputuskan untuk dia memilih, mungkin dia bingung, bukankah kebingunan adalah hal yang paling berbahaya?, dan dia memilih untuk pergi. Namun, kali ini Semesta tidak berhasil membuatku terjatuh, tidak berhasil mengelabuiku, tidak berhasil membuatku merasa kehilangan seperti kehilangan di masa dulu. Aku sadar, dia hanya bermain-main, dia hanya coba-coba, aku juga hanya ingin belajar darinya, hanya sebuah perasaan. pikirku. Akhirnya aku merasa jika bersamanya membuatku bisa merubah arti cinta sesungguhnya, membuatku menjadi "menggila", membuatku menorehkan tinta hitam beratasnamakan "cinta", bisa terus memaksanya yang akhirnya menyakitinya. Lalu apakah itu pantas disebut "cinta"? haaaa...lagi-lagi gadis ini dengan seenaknya mengatakan kata "cinta".
dan kini, entahlah... Hanya Tuhan yang tahu yang terbaik untukku dan dia.
Bukankah tanda kedewasaan salah satunya tidak memaksakan suatu hal, termasuk mencintai seseorang?
Komentar
Posting Komentar